SURAT UNTUK PUTRI KU

Laki-laki berkaca mata itu sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk putrinya. Ia selalu bangun lebih awal dan membuat saparan agar putrinya bisa sarapan sebelum berangkat kerja.

Rina keluar dari kamarnya dan langsung berangkat kerja tanpa memperdulikan Ayah nya yang sibuk di meja makan.

“Rin, sarapan dulu. Ayah sudah siapkan sarapan. “Ujar Pak Firman sambil menahan tangan Rina saat hendak berangkat ke rumah sakit.

Rina menarik nafas panjang dan menghadap Ayah nya. “Harus berapa kali aku bilang kalau Ayah gak usah repot-repot buat sarapan untuk Rina. “

“Tapi Rin, dari pada beli makan di luar lebih baik makan di rumah saja.”

“Dengar ya Yah. Aku mau makan di luar atau di rumah bukan urusan Ayah. Aku beli pakai uang ku sendiri. Aku tidak pernah minta uang sama Ayah. Jadi ga usah ceramah di pagi hari.” Ucap Rina ketus, Lalu meninggalkan Ayah nya. Sementara Pak Firman hanya bisa membiarkannya pergi.

“Maafin Ayah Nak.” Ucap pak Firman pelan pada dirinya sendiri. Lalu mengambil ponselnya yang berdering.

“Halloo…” Sapa seorang laki-laki dari seberang.

“Hallo…, Dokter Ali.” Jawab Pak Firman

“Bagiamana kabar kamu, sudah lama tidak ada kabar?” Tanyanya.

Mereka berbicara cukup lama ditelpon, sampai tidak sadar jam menunjukan pukul 9 pagi. Sudah saatnya pak Firman untuk pergi bekerja. Saat ini Pak Firman bekerja sebagai supir taxi.

“Dok, sudah dulu ya. Saya harus pergi bekerja.” Ucapnya sambil mengakhiri panggilannya, kemudian bergegas untuk pergi.

***

Rina keluar dari ruanganya. Lalu berjalan ke ruang pasien untuk memeriksanya bersama dua perawat. Rina sudah bekerja di rumah sakit sejak tiga tahun yang lalu. Ia adalah seorang dokter jantung yang hebat dan segani karena prestasinya. Keahliannya di meja operasi tidak diragukan lagi.

“Hai Doker Rin..” Sapa salah satu dokter laki-laki berbadan tinggi itu. Dokter Dava namanya.

Rina menghentikan langkahnya dan menghadap kepada Dokter Dava, namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. sementara kedua perawat itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Sudah makan Siang?” Tanya Dava.

“Balum.” Jawabnya singkat.

“Makan yuk.” Ajaknya.

“Aku lagi sibuk. Kamu makan duluan aja.” Jawabnya dingin kemudian meninggalkan Dava yang berharap menerima ajakannya.

Dava mengangkat kedua bahunya. Dalam hati sangat kecewa. namun tidak mau ambil pusing. Ia berjalan ke kantin.

***

Pak Firman berjalan ke lobi rumah sakit sambil membawa kotak makan berwarna biru dan meminta kepada salah seorang petugas untuk memanggilkan Rina.

Setelah mendapat telpon Rina menuju Lobi untuk menemui Ayahnya. Di tengah perjalanan ia tertemu dengan Dava.

“Mau ke kantin ya? Katanya gak mau makan.” Ucap Dava yang berjalan di sampingnya.

“Aku bukan mau makan. Aku Cuma mau ke…” Kata-kata Rina berhenti saat melihat laki-laki berkaca mata itu duduk di lobi.

Pak Firman berlari kecil menghampiri Rina yang tidak jauh darinya. “Rina…kamu sudah makan?” Tanya nya. Rina hanya menghela nafas.

“Dia siapa Rin?” Tanya Dava sambil menatap Rina.

“Ooooo…..Saya….Saya….” Ucap Pak Firman seraya melihat Rina.

“Dia Ayah ku. Jawabnya tetap dingin. Dava mengangguk.Lalu menyambar kotak makan itu.”Ini buat Rina kan pak, tadi katanya Rina ga mau makan. Dia udah kenyang. kebetulan saya laper banget pak. Terimakasih ya pak.” Ucap Dava sambil membawa kotak makan itu ke kantin. sementara Rina dan Ayah nyamasih terpaku di lobi rumah sakit. Rina meminta Ayah nyauntuk tidak lagi mengirim makanan untuknya.

***

“Maafin Ayah. Ayah hanya khawatir, kalau terjadi apa-apa sama kamu. Soalnya tadi pagi kamu tidak sarapan. Terimakasih sudah mengakui Ayah sebagai Ayah kamu di depan Dokter itu tadi.” Ucap pak Firman mengawali pembicaraannya.

“Berapa lama Ayah akan datang ke rumah sakit dan membawakan makanan buat aku. Biasanya Rina juga tidak pernah sarapan. Jadi mulai besok Ayah tidak usah datang lagi ke rumah sakit, dan jangan salah paham aku mengakui Ayah sebagai Ayah ku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Tapi satu hal yang perlu Ayah ingat adalah Aku sangat membenci Ayah.”

Pak Firman mengangguk sambil mengunyah nasi yang ada di dalam mulutnya.

“Ayah janji tidak ada datang ke rumah sakit mengirim kotak nasi lagi buat kamu. Oh ya besok Ayah mau ke rumah teman Ayah untuk beberapa hari. Kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah.

***

Sore itu hujan begitu deras. Rina masih enggan untuk pulang ke rumah. Ia menikmati hujan di ruangannya sambil menghadap ke jendela. tiba-tiba matanya tertuju pada seorang laki-laki yang sudah cukup tua menjemput putrinya di pinggir jalan dengan membawa payung. Mereka berjalan beriring-iringan.

Entah apa yang membuat Rina tiba-tiba teringat dengan Ayahnya, yang selama ini ia benci. Itu semua bermula dari lima tahun yang lalu. Saat itu ibunya mengidap kanker tertadium akhir dan harus di operasi. Yang melakukan operasi saat itu tidak lain adalah Pak Firman. Waktu itu Pak Firman adalah dokter yang dihormati sebelum akhirnya dituduh melakukan mal praktek terhadap istrinya. Dan hal itu lah membuat Rina membenci Ayahnya.

Sudah satu minggu setelah kepergian Pak Firman ke rumah sahabatnya, Pak Ali. Rina merasakan kesepian di rumah.

Rina tidak mau larut dengan apa yang baru saja dilihatnya. ia menarik nafas, lalu keluar ruangan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang pikirannya selalu saja teringat wajah Ayahnya. Ia mencoba memejamkan matanya, namun masih saja tidak bisa hilang dari pikirannya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ayahnya. Tapi, nomor itu tidak aktif. Ia mengulangi sekali lagi. Lagi-lagi tidak aktif. Tiba-tiba rasa cemas itu muncul dibenaknya. selang berapa menit ada pesan masuk untuknya.

“ini Pak Ali sahabat pak Firman. Bisa ke rumah saya. Ada yang perlu saya omongin. Soal Ayah kamu.” tulisya. Disana juga tertulis alamat rumah Pak Ali. Rina langsung meminta kepada sopir taxi itu untuk mengantarkannya ke alamat tersebut.

“iya ini pak, Alamatnya.” Ucap Rina. Lalu turun setelah membayarnya. Rina berjalan sedikit ragu. Sebelum akhirnya ia memencet bel rumah itu. Tidak berapa lama seorang laki-laki datang membukakan pintu untuknya.

“Nak Rina ya. Ayo silahkan masuk.” Ucapnya ramah.

Rina mengikutinya menuju ruang tamu. Pak Ali mempersilahkannya duduk. Lalu ke dapur mengambil minuman untuknya. Mata Rina melihat kesana kemari seperti ada yang dicari.

“Maaf saya hanya bisa membuatkan teh saja.” Ucap pak Ali.

“Owh ya pak, terimakasih. tidak perlu repot-repot.” Jawab Rina.

Pak Ali duduk di hadapannya dan terus memperhatikannya, membuat Rina jadi serba salah. “ Ayah dimana Pak? Tadi saya telpon tapi tidak diangkat.” Ucap Rina.

Pak Ali terdiam sesaat, sebelum akhirnya memberitahukan bahwa Ayah nyasudah meninggal empat hari yang lalu, karena serangan jantung. Ia juga menceritakan kejadian yang sebenarnya lima tahun yang lalu, saat Ayah nyadituduh melakukan mal praktek.

Rasa bersalah Rina semakin besar. Selama ini ia salah paham terhadap Ayahnya. Ia menganggap Ayah nyayang membuatkan ibunya meninggal. Ayah nyayang selalu memperhatikannya, meskipun Rina sering mengabaikannya.

“waktu itu saya ingin memberitahu kamu. tapi Ayahmu melarang. Katanya kamu sedang sibuk di rumah sakit.” Jelas Pak Ali sambil memberikan amplop putih kepada Rina.

Rina benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. air matanya terus mengalir. Pak Ali mencoba menenangkannya kemudian menunjukan makam Ayahnya.

Disana terdapat kuburan yang masih basah dan bunga di atasnya sudah hampir layu. Rina duduk tepat di dekat batu nisan Ayah sambil terus menangis.

Usai dari pemakaman Rina kembali ke rumah dan membuka ampol itu.

Untuk putri ku sayang…

Rina sayang.. Ayah minta maaf. selama ini Ayah belum bisa membahagiankanmu. Maafin Ayah yang selalu membuatmu kesal dan tidak nyaman saat bersama Ayah. Ayah hanya mengkhawatirkan kamu. Ayah takut jika di luar sana terjadi apa-apa sama kamu. Ayah hanya ingin lebih dekat dengan mu di saat akhir hidup Ayah.

Putri ku sayang… Ayah bangga sama kamu. Kamu menjadi dokter yang perprestasi dan hebat sepertinya yang Ayah harapkan. tapii… ingatlah putriku, tidak selamanya hidup itu selalu ada di atas. ada saatnya kamu berada di bawah. Untuk itu persiapkan dirimu untuk menghadapi semua itu.

Putri ku sayang…jadi kamu ingin menikah nanti. pilihlah pasangan bukan karena hartanya, tapi karena kemulian hatinya. Nak, selama ini Ayah sudah siapkan tabungan untuk biaya pernikahanmu. mungkin tidak banyak, tapi Ayah harap kamu mau menerimanya. Sekali lagi…maafin Ayah, Nak. Ayah selalu mencintaimu…

Ayah

Rina terus saja menangis. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukan kepada Ayahnya. Ada banyak hal yang ingin Rina tanyakan kepada Ayah nyadan ingin meminta maaf kepadanya.

Ia teringat kata-kata kasar yang sering keluar dari mulutnya. Kenangan-kenangan manis bersama Ayahnya. Rina mendekap surat itu sambil menangis tersedu-sedu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s